hei mantan kekasih mantan kekasihku,
eh.. mungkin sekarang atau bahkan sejak awal aku bersamanya kalian masih menjalani hubungan? entahlah.. aku tak ingin terus mengusik hal itu. aku akan menyebutmu adik saja.
adik? ya.. karena dari segi usia kau jauh lebih muda dariku.
tak apakan?
pasti tak menjadi masalah untukmu, :)
aku minta maaf sebanyak-banyaknya padamu sebelum aku memulai untuk mengungkapkan semua yang kurasakan ini, dan ku harap kau pun mau memaafkanku dengan segala kelapangan dan keikhlasanmu.
buat apa kita saling menyimpan dendam? toh kini aku tak lagi milikinya, dia telah jadi milikmu sepenuhnya. benarkan?
aku bingung harus dari mana aku mulai mengungkapkan apa yang kurasakan tentang kita? ya, kita. aku dan kamu. dimana adanya kita ini karena ada dia. dia yang entah berstatus menjadi siapa bagimu sejak dulu hingga kini yang masih menjadi tekateki untuk ku tapi tak ingin ku dapatkan jawabannya lagi. apa kabar dia sekarang? semoga baik ya.. dan semoga pula dia mendapat tambahan kosa kata agar saat melakukan percakapan dapat menjadi semakin lancar hingga orang lain bisa tau maksud dan tujuan dari apa yang disampaikannya itu. :)
dek, tolong jawab jujur ya.. apakah sebagian besar status mu di jejaring sosial itu untuk ku? Jika memang benar, tolong sampaikan padaku apa yang sebenarnya menjadi masalah bagimu hingga kau terus menyindir ku di timeline mu itu? aku tak mengerti. benar-benar tak mengerti dengan apa yang kau sampaikan disana.
Pertama, kau bertanya padaku tentang kebenaran hubungan yang ku jalani dengan dia. tanpa berbelit aku langsung menjawab keadaan ku sebenarnya kan? apa itu jadi masalah buatmu?
setelah itu, tiba-tiba kau minta tolong padaku untuk menyampaikan sesuatu padanya. yang namanya orang minta tolong, selama aku bisa pasti aku lakukan. dan itu pula yang ku lakukan padamu. tapi pada satu sisi yang berbeda, aku merasa heran dengan permintaan tolong mu itu. kenapa? lha kalian kan sudah saling berhubungan sebelumnya, pasti sudah punya CP masing-masing, ID sosmed masing-masing juga pasti masih saling tertaut, namun kenapa harus melalui aku? aahh.. biarlah.. segera ku tepis segala pikiran negatif itu.
seiring tersampaikannya pesan padanya darimu, kau justru semakin menyampaikan hal-hal yang sangat tak ku mengerti. jujur, aku sangat penasaran dan itulah yang membuatku memberanikan diri untuk bertanya secara langsung lewat pesan dalam salah satu sosmed yang kau miliki. disitu langsung pula ku sertakan nomer handphone ku, berharap agar kau bisa menghubungi ku secara langsung atau setidaknya aku dapat balasan berupa jajaran angka yang dapat menghubungkan kita secara pribadi. tapi apa? nihil, tak ada hasil yang kudapatkan. ya sudahlah... ku pikir semuanya telah berakhir dengan pesan terakhirmu yang sempat "sedikit mengumpat" tentang dia, ternyata... justru kau semakin menjadi dengan menyampaikan hal itu. aku lelah... lebih baik langsung ku hubungkan disosmed itu.
dan dia? apa yang ku dapat saat ku tanyakan akan semua ini? tak ada! hanya diam! hanya sebuah janji yang terucap, suatu saat nanti pasti dia akan menceritakan semuanya.
karena aku tak suka dipaksakan akan suatu hal, aku pun tak ingin memaksakan suatu hal pada orang lain. aku mengalah. aku diam. aku terima janjinya.
beberapa hari berlalu, tak ada hal istimewa yang terjadi. dan selama itu ku kira telah ada penyelesaian diantara kalian.
ternyata sebuah perkiraan yang salah.
terkejut bukan kepalang saat ku dapatkan sedikit perubahan sikap padanya dan beberapa tulisan mu ditimeline mu. kau menyebut-nyebut tentang jarak yang memisahkan aku, dia dan kamu. kamu dan dia memang dekat, dan aku? hanya bisa tersenyum aku membaca semua itu.
semakin ku tersenyum dengan sudut yang lebih lancip saat membaca-baca yang lain. apa isinya? tentang penipuan.
hah? :o
penipuan?
apalagi ini?
siapa pelaku kasus ini? siapa korbannya? kok yang menjadi korban seperti mengarah padaku ya?
benarkah itu dek?
tolonglah... jelaskan padaku bagaimana sebenarnya kasus itu terjadi?
mungkin aku bisa mendapat jawaban dari dia, begitu pikirku setelah membaca semua itu. tanpa pikir panjang, langsung ku cari moment yang tepat untuk menyampaikan segala keresahan ini padanya.
Tetap berusaha setenang mungkin, tanpa menggunakan emosi sedikitpun, aku mencoba membuka percakapan dengannya. mulai dari hal yang telah berlalu, salahsatunya adalah menagih janji yang dulu pernah ia sampaikan dan sampai saat itu pun masih menjadi janji. miris.
dari situ aku sudah punya perasaan tak enak akan semua ini.
dan benar saja.
sampai beberapa menit berlalu, tak ada hal yang ku dapat. hanya keringat dingin darinya yang menjadi jawaban dari semua cecaran yang ku sampaikan. aku mulai tak bisa menguasai diri.
biarlah...
aku frustasi,
aku lelah dengan diam yang dimilikinya.
aku tak tahu harus menceritakan semua ini kepada siapa.
akhirnya salah satu sosmed yang ku pilih.
sebelum ku lanjutkan aksi gilaku, terlebih dahulu ku blokir akun mereka berdua. maafkan aku melakukan semua ini.
beberapa hari berlalu, perasaan ini mulai tenang. aku tak ingin semakin memperkeruh suasana. segera ku hapus pilihan blokir yang telah ku tetapkan pada kalian. saat itu, rasa ingin tahu ini muncul. selama aku memilih untuk sendiri, apa yang mereka tulis ya? segera saja aku buka semua tulisan yang tersedia sejak tanggal ku blokir.
apa yang ku dapat? sesuatu yang sangat mencengangkan!
dek dek... kok ya kamu bisa ngomong gitu tho ditimeline mu itu. apa kamu gak pernah ngarasain yang namanya sakit karena dibikin jadi mainan? apalagi yang mainin anak kecil?
mungkin emang gak pernah sih, makanya kamu gampang banget ngomong kayak gitu disitu.
miris dek,
aku cuma bisa ngakak aja baca tulisanmu itu.
sekarang coba dipikir ya dek! kalo aku itu alay, kamu apa? normal?
hhhmmm...
setau ku ya, kalo yang namanya orang normal itu kalo emang mau nyelesein masalah yang secara langsung aja. gak sah main sindir-sindiran di sosmed. kayak cabe-cabean aja! hahaha...
padahal aku udah ngasih nomer HP ku lho, kan kamu tinggal sms aja. apa susahnya sih? apa mahal? kayaknya juga kamu udah pake smartphone kan? pasti banyak aplikasi chatnya, aku juga punya lho.. apa itu juga masih mahal buat kamu? aduh dek.... pliss deh...
kalo gitu, mending kamu kasih nomer mu ntar tak isiin pulsa deh. gampang kan? enak juga lho...
hhmmm...
masih gak ngerti banget sama jalan pikiranmu dek! kamu bilang aku cemen karena udah blokir akun mu. maaf ya dek, aku gak kayak gitu.
aku blokir akun mu juga karena TERPAKSA! tau kenapa? apa harus ku jelasin lagi?
kamu udah dewasa lho buat mencerna semua ini.
alasanku sekarang mempertahankan blokiran akunmu cuman satu, tau apa? KARENA AKU PENGEN HIDUP TENANG. aku lelah dengan semua perkataan mu itu.
dek, kamu tau kan kalo itu sosial media. semua orang bisa ngakses. ya emang, mereka yang gak kenal kamu gak bakal tau maksud dari semua yang kamu sampaikan. tapi buat mereka yang kenal? aahh.. terserah kamulah.
aku sudah benar-benar lelah melihat dan berinteraksi dengan kalian.
maafkan aku.
sekarang terserah kamu aja dek.
aku mundur.
aku gak akan ganggu kalian lagi, tapi aku juga minta tolong.
tolong jangan pernah bawa aku lagi dalam hubungan kalian.
aku memang (masing) menyayanginya, tapi jika dia jauh lebih berarti untuk mu, tolong sayangi dia jauh lebih banyak dari apa yang pernah aku lakukan.
aku yakin, dia akan jauh lebih bahagia saat bersamamu.
dan saat melihat senyumnya, aku pun akan tersenyum untuk kalian.
sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padanya, tapi nanti saja.
yang penting sekarang, TOLONG, JANGAN TERUS BAWA AKU DALAM HUBUNGAN KALIAN.
No comments:
Post a Comment