entah apa yang merasuki pikiranmu hingga kau memilih untuk melakukan semua ini. kembali menorehkan sakit. memang bukan aku yang menjadi korbanmu saat ini, tapi sama saja. toh rasa sakit itu tetap ikut aku rasakan, karena apa? karena aku juga wanita, wanita yang juga pernah kau sakiti.
aku tak tahu harus bagaimana lagi bersikap kepadamu. kau datang dan pergi seenakmu sendiri. keluar dan masuk dalam hidupku tanpa permisi, seolah hidup ku ini jalanan umum yang bisa kau lewati begitu saja. tanpa salah dan sapa, tiba-tiba kau telah ada dihadapanku dengan sejuta penawaran yang entah ada maksud apa dibalik semua itu, atau memang sebuah ketulusan semata? aku sudah tak dapat lagi membedakannya.
kini kau hadir (lagi) dalam hidupku (disaat aku tak inginkan hadirmu).
miris.
kau tinggalkan dia, yang kau bilang demi aku. demi aku?
heh! kamu itu masih punya hati gak sih? otak mu masih bisa dipakai berpikir tidak? kenapa kamu menjadikanku alasan untuk menyakitinya?
padahal dari awal aku tahu akan 'kalian' aku udah bilang kan? kalau aku memilih mundur, asal kalian bahagia. apa itu masih kurang jelas?
dan sekarang? alasan apa lagi yang harus ku jadikan latar belakang kemuduran ku?
oke, ini saja.
aku sekarang tak lagi sendiri. jelas?
kalo kurang jelas, aku perjelas lagi. aku kini telah bersama dia. dan aku tak bisa untuk bersama mu lagi.
sudah?
mengertilah...
tolong...
kembalilah saja kau bersamanya. aku mohon...
jangan pernah pedulikan aku lagi.
aku bukan apa-apa untuk mu. aku pun tak lebih berharga dari apa pun untukmu. dan tolong jangan kau buat aku berharga mulai sekarang karena itu sudah tak memiliki efek apa-apa untukku.
dengan pilihan sikap mu yang seperti ini, justru membuat ku semakin merasa bersalah kepadanya. kepada orang yang telah kau sakiti.
masihkan kurang usaha yang dia lakukan untuk mu? haruskah aku mendetailkan setiap usaha yang dia lakukan? perlukah? agar kau sadar betapa besar cintannya untuk mu?
bangkitlah..
lepaskan aku....
tolong...
maaf, kita tak bisa bersama lagi
sekali lagi ku ucap maaf, aku tak lagi bisa besama kamu.
No comments:
Post a Comment